Kelurahan Padangsari Menyelenggarakan Gelar Budaya Tari dan Wayang Kulit Dalam Menyambut HUT RI Ke- 81
Pagelaran Tari dan Wayang Kulit
Kelurahan Padangsari menggandeng Sanggar Joglo Cemara yang beralamat di Jl. Cemara II, Padangsari, Banyumanik, di bawah asuhan Dadi. Dalam pagelaran tersebut ditampilkan sejumlah tarian tradisional, antara lain: Tari Pesisiran, Tari Lilin, Tari Kupu-Kupu, serta penampilan yang memukau yaitu Tari Anoman Obong yang dibawakan dengan sangat lincah.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan Pagelaran Wayang Kulit yang dipentaskan oleh para dalang cilik. Mereka menampilkan kisah-kisah peperangan antar tokoh dengan begitu luwes dan penuh penghayatan, hingga kisah terasa begitu hidup. Hal yang patut dibanggakan, mengingat penampilan tersebut dibawakan oleh anak-anak usia TK.
UMKM Padangsari Turut Meramaikan
Pagelaran ini juga dimeriahkan oleh partisipasi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) se-Kelurahan Padangsari. Berbagai produk kerajinan tangan dan aneka olahan makanan ditampilkan serta dipasarkan, dan mendapat sambutan hangat dari pengunjung yang hadir dengan jumlah yang cukup banyak. Pelibatan para pelaku UMKM dimaksudkan untuk kembali menumbuhkan dan mengembangkan budaya wirausaha yang prospektif bagi masyarakat. Diharapkan pula dukungan dan pembinaan berkelanjutan dari pemerintah, agar masyarakat semakin berdaya dan mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan usaha saat ini.
Wawasan Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
Pada kesempatan tersebut, Camat Banyumanik turut menyampaikan pandangannya. Beliau menegaskan pentingnya pembentukan karakter serta pelestarian nilai-nilai budaya lokal sebagai jati diri masyarakat, yang harus ditanamkan sejak usia dini kepada anak-anak. Pendidikan karakter diharapkan mampu menumbuhkan sikap toleransi, rasa hormat terhadap keragaman suku bangsa, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air. Di samping itu, pelestarian budaya lokal sangat diperlukan guna menjaga bahasa dan kesenian tradisional, sekaligus berfungsi sebagai benteng di tengah arus globalisasi. Budaya bangsa berfungsi sebagai penyaring, agar pengaruh asing yang bersifat negatif dan dapat merusak jati diri bangsa dapat terelakkan.
(Budi Semawis)